Postingan

Secangkir Teh hijau

Mari duduk bersama ku sambil seraya minum teh hijau bersama. mungkin sebagian dari kalian menyukai minuman ini kan? selain menyehatkan tubuh, minuman ini juga ternyata bisa menenangkan pikiran ² yang jenuh sekali di jadwal / waktu yg begitu padat.. tetapi, tak semua orang dapat menyukai minuman ini, sama hal nya ketika kita memberikan sesuatu yang baik untuk semua orang, tapi tak semua menyukai nya juga... Sedih? tentu itu hal biasa. Bertanya? wajar. Tetapi aku kembali menepi dan menyerap teh ini di kala waktu sendirian, di temani suara jangkrik.  Disini aku menyadari jika kita sedang meminum teh hijau jangan hanya memikirkan rasanya. Sudah pasti berbeda seperti yang kita inginkan, namun berfokuslah untuk merasakan manfaat nya untuk jangka panjang.  Sama seperti hal lain nya. Kita tak dapat mengendalikan respon orang lain bahkan yang kita cintai, nikmatilah berbuat baik untuk menuai ke diri sendiri.   Hai ini aku dan secangkir teh hijau hangat malam ini..

Who's me?

  Aku menatap diriku sendiri. Berwajah mungil, manis, dan memiliki rambut yang halus. Tak ada yang aneh di sini. Hanya saja... aku mempertanyakan, "Siapa diriku?" Kakek dan nenekku mengatakan aku berbeda dari anak-anak lainnya. Aku pikir itu hanya guyonan orang terdahulu yang tak masuk akal di pikiranku. Ternyata, perlahan-lahan... itu benar. Aku menyadarinya sendiri. Kututup rapat-rapat rahasia ini, bahkan ayah dan ibuku sendiri tak terlalu tahu.  Tak apa, setiap manusia memiliki rahasia masing-masing yang tak bisa diungkapkan. Jika aku mengatakannya pun, tak ada seorang pun yang akan mengerti. Namun, aku tetap bangga dan cinta pada diriku sendiri.  Aku bersyukur masih bisa hidup dengan baik.  Aku juga baru menyadari bahwa semua ciptaan Tuhan itu tidak ada yang gagal. Di sini aku belajar untuk menghargai diriku, siapapun dan apapun aku. Pertanyaan yang masih ada di benakku... suatu saat, akan terungkap, "Who am I?"

Aku, Ibu, dan kota Jogja kala itu

  Tik tok tik tok... Ya, jam dinding ku terus berdenting cukup keras di tengah sunyi nya malam hari ini. Jam menunjukkan sudah pukul 3 malam.. Namun aku sendiri belum bisa terlelap.. Aku...merindukan ibuku.. Teringat jogja kala itu aku, ibu dan kaka ku pergi dan menghabiskan waktu bersama.. Aku teringat, bagaimana senang nya ketika aku baru pertama kali nya melihat stasiun Lempulayangan di tengah hiruk pikuk nya orang lain yang pulang pergi dari kota pelajar itu hahaa... Aku masih teringat bagaimana heboh nya kami bertiga pergi ke candi borobudur sambil seraya mencari angkutan umum.. Tak lupa aku ingat kejadian lucu yang dimana aku dan kaka ku takut sekali tempat - tempat yang begitu gelap di daerah pegunungan.. Namun, semua sudah hilang begitu sirna saja ya..karna melanjutkan jalan hidup masing²... Begitu sedih, dan terasa pilu sekali jauh dari orang orang yang ku sayang.. Tak mengapa..walau jauh..tapi di dalam hati..tak akan pernah bisa terlupakan.. Ibu..kakak..terima...

Panorama

Hanya bisa menatap dari belakang, dengan panorama yang justru membuatku sesak. Aku diam, dengan tatapan nanar, menyaksikan pilihan-pilihan yang kini harus kupeluk di usia dua puluh tahun— usia ketika aku mulai benar-benar sadar bahwa dunia ini fana.. Bukan semua yang terjadi adalah keinginanku. Namun Bahtera Langit membuatku tetap bertahan, menjaga napasku tetap utuh di tempat ini. Dan untuk itu, aku tetap bersyukur aku bisa bertahan hidup dengan baik... Tapi, apakah aku boleh memilih diriku sendiri? Aku tak ingin jiwaku terus terkoyak... hanya karena panorama-panorama konyol yang terpaksa kusaksikan. Bukankah sebagai manusia, kita berhak memilih diri kita sendiri? Karena dunia ini hanya diciptakan satu kali, izinkan aku merajut ulang semuanya— dengan tangan kosongku, dari kain indah yang kuimpikan sejak lama. Biarlah laut, udara, dan matahari menemani setiap langkah ku.. sambil perlahan aku merajut kembali harapan.. Wahai Bahtera Langit, sertai aku ke mana pun angin membawaku pergi......