Panorama
Hanya bisa menatap dari belakang,
dengan panorama yang justru membuatku sesak.
Aku diam, dengan tatapan nanar,
menyaksikan pilihan-pilihan yang kini harus kupeluk
di usia dua puluh tahun—
usia ketika aku mulai benar-benar sadar
bahwa dunia ini fana..
Bukan semua yang terjadi adalah keinginanku.
Namun Bahtera Langit membuatku tetap bertahan,
menjaga napasku tetap utuh di tempat ini.
Dan untuk itu, aku tetap bersyukur aku bisa bertahan hidup dengan baik...
Tapi, apakah aku boleh memilih diriku sendiri?
Aku tak ingin jiwaku terus terkoyak...
hanya karena panorama-panorama konyol
yang terpaksa kusaksikan.
Bukankah sebagai manusia,
kita berhak memilih diri kita sendiri?
Karena dunia ini hanya diciptakan satu kali,
izinkan aku merajut ulang semuanya—
dengan tangan kosongku,
dari kain indah yang kuimpikan sejak lama.
Biarlah laut, udara, dan matahari
menemani setiap langkah ku..
sambil perlahan aku merajut kembali harapan..
Wahai Bahtera Langit,
sertai aku ke mana pun angin membawaku pergi...
Kini, aku berlayar dengan kapalku sendiri.
Dan diamku bukan berarti bodoh atau tuli—
diam adalah pilihan yang paling bijak untuk saat ini...
Komentar
Posting Komentar